Oktober 22, 2021

florencestandard.com

Blog Media Info Terkini

Anna Mutia Bukan Korban Pertama, Lepasnya Pisau Mesin Rumput Menewaskan Usman 7 Tahun Lalu di Aceh

– Insiden lepasnya mata pisau dari mesin pemotong rumput yang merenggut lengan dan nyawa Anna Mutia (28), pada Senin (28/12/2020), ternyata bukanlah insiden maut pertama di Aceh. Banyak kasus serupa terjadi di sejumlah daerah di Aceh. Tapi hampir semuanya tak terungkap ke publik, karena tidak dilaporkan ke kepolisian.

Kebanyakan insiden ini dianggap sebagai bagian dari kecelakaan kerja dan akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan. Namun, dari sejumlah kejadian ini, insiden yang menimpa Anna Mutia (28) perawat Rumah Sakit Umum Teungku Peukan (RSUTP) Aceh Barat Daya (Abdya), adalah yang paling menyita perhatian publik. Sebab awalnya, kasus ini sempat berbalut misteri.

Anna sempat menjadi pusat perhatian dan pemberitaan, karena mengalami kecelakaan misterius di tengah jalan yang sepi. Dalam pemberitaan awal, Anna kehilangan lengan kanannya saat mengendarai sepeda motor, dalam perjalanan pulang dari tempat tugasnya di RSUTP Abdya. Awalnya, keluarga, medis, bahkan polisi pun kebingungan dengan insiden yang menimpa Anna.

Sebab tidak ada unsur perampokan ataupun kekerasan dalam insiden kecelakaan itu. Semuanya merasa bingung karena lengan kanan Anna putus tiba tiba tanpa indikasi dia mengalami tindak kekerasan. Setelah sembilan hari berbalut misteri, akhirnya polisi berhasil mengungkap penyebab putusnya lengan Anna, beberapa jam setelah Anna meninggal dunia di RSUD Zainoel Abidin, Banda Aceh, Selasa (5/1/2021).

Innalillahiwainnailaihirajiun. Kerja keras pihak kepolisian berhasil mengungkap misteri putusnya lengan Anna. Ternyata Anna menjadi korban tebasan pisau pemotong rumput yang lepas dari mesinpotongrumput milik petani yang sedang bekerja di sekitar jalan itu.

Polisi pun sudah mengamankan pria berinisial AB (65) yang mengakui adanya insiden tersebut. "Pelaku sudah ditangkap. Intinya, kita sudah mengungkap motif yang selama ini masih tanda tanya, ada yang mengatakan begal, perampokan dan begal, atau dendam itu tidak benar, yang benar adalah beliau terkena pisau pemotong rumput," kata Kasat Reskrim Polres Abdya, AKP Erjan Dasmi STP didamping Kabag Ops dan Kapolsek Susoh, Iptu Barmawi, saat menggelar pers rilis, Selasa (5/1/2021) di halaman Mapolres setempat. Menurutnya, apa yang menimpa Anna itu adalah kecelakaan kerja dan tidak ada unsur kesengajaan.

"Awalnya pelaku berusaha mencabut pisau yang nyangkut di lengan korban. Karena merasa ketakutan, beliau membuang kepingan ini ke kebunnya," terangnya. Atas musibah itu, AB terancam lima tahun lima tahun penjara atau dijerat Pasal 359 KUHPidana.

Saat itu, AB sedang membersihkan kebunnya menggunakan mesin pemotong rumput. Salah satu bagian pisau pemotong rumput terlepas dan terbang mengenai lengan Anna Mutia, mengakibatkan lengan sang perawat yang sedang mengendarai sepeda motor itu, putus total. Kepergian Anna Mutia untuk selamanya ini meninggalkan seorang anak dan seorang suami bernama Fajri.

Setelah kasus Anna Mutia terungkap, mulailah terungkap satu persatu kasus kecelakaan karena lepasnya pisau potong rumput dari ujung tongkat mesin pemotong rumput. Sembilan bulan lalu, kejadian serupa menimpa Fakhrurrazi (29), warga Desa Meunjee Peut, Kecamatan Meurah Mulia Aceh Utara. Akibat kejadian ini, Fakhurrazi kehilangan kaki sebelah kiri karena harus diamputasi setelah hampir putus terkena potongan masa pisau mesin pemotong rumput.

“Kejadian pada hari Sabtu 18 April 2020, di Baree Blang Kecamatan Meurah Mulia,” ungkap Muhammad Daud, Staf Khusus Anggota DPR RI asal Aceh, H Sudirman alias Haji Uma, kepada Serambinews.com Rabu (6/1/2021). Daud mengatakan, saat kejadian Fakrurrazi membabat belukar di kebun miliknya dengan mesin. Tiba tiba sebuah benda keras dan tajam menghantam kaki sebelah kiri.

Fakhurrazi pun tersungkur dengan kaki sebelah kiri mengucurkan darah. Ia melihat pergelangan kaki kirinya hampir putus tersambar mata pisaupotongrumput yang patah yang berkelebat secepat kilat menebas kaki kirinya. Warga yang mendengar teriakan minta tolong, segera mengevakuasi Fakhrurrazi ke RS Cut Mutia Lhokseumawe.

Beberapa jam kemudian, Fakhrurrazi dirujuk ke RSUDZA Banda Aceh. “Kakinya harus diamputasi, karena tidak mungkin disambung lagi,” ujar Muhammad Daud. Insiden patahnya pisaupotongrumput juga diceritakan oleh Anggota DPR Aceh, Asrizal H Asnawi.

“Kejadian ini sekitar tahun 2013 di kampung saya di Paya Ketenggar, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang. Korbannya adalah Usman (50). Beliau meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit,” kata Asrizal kepada Serambinews.com di Banda Aceh, Rabu (6/1/2020). Asrizal bercerita, kejadian yang merenggut nyawa Usman ini hampir sama seperti kejadian yang merenggut nyawa Anna Mutia, perawat di Aceh Barat Daya.

Kala itu, Usman sedang menggarap sawahnya. Ia tak pernah menyangka, deru mesinpotongrumput yang tak jauh dari tempatnya berada akan menjadi maut baginya. Sebilah pisau yang sedang berputar tajam di ujung mesinpotongrumput milik petani yang bekerja tak tauh dari Usman, terlepas dan berkelebat di udara.

Tak sempat tahu, potongan pisau itu menancap di wajah Usman yang kemudian tersungkur ke tanah. Warga yang mendengar teriakan minta tolong, langsung mengevakuasi Usman ke rumah sakit Langsa dengan menggunakan mobil milik ayah Asrizal. Namun, ajal menjemput Usman dalam perjalanan ke RS.

Harus Dilarang Asrizal H Asnawi mengatakan, kasus yang menimpa Anna, Fakrurrazi, dan Usman, adalah hanya segelentir kasus kecelakaan akibat mata pisaupotongrumput yang terungkap ke publik. Ia meyakini, kasus serupa juga terjadi di beberapa daerah.

Tapi tak menjadi konsumsi publik karena biasanya diselesaikan secara kekeluargaan. “Insiden terakhir yang menimpa Anna Mutia hendaknya menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tidak lagi memakai alat kerja yang membahayakan diri sendiri dan orang lain,” kata Asrizal H Asnawi. Ia berharap, pihak berwenang mengeluarkan aturan yang melarang penggunaan mata pisau pada mesin pemotong rumput.

Apalagi, kata dia, mata pisau yang digunakan sekarang kualitasnya tidak bagus dan mudah patah. “Atau seharusnya ada standar keamanan yang tinggi bagi produsen mata pisaupotongrumput ini. Bukan dijual dengan bebas di pasar online dengan tanpa memperhatikan kualitas logam dan ikatan pada gagangnya,” ujar Asrizal. “Sebaiknya mata pisau ini tidak digunakan lagi dalam membabat rumput. Tapi bisa menggunakan senar atau tali pancing yang ukuran besar. Kalau untuk memotong semak yang lebih keras, maka bisa dilakukan secara manual atau mesin yang benar benar aman,” pungkas Asrizal.

Tadi pagi, Asrizal juga menuliskan kisah kecelakaan akibat penggunaan mata pisau di kampungnya.